Anugra: Bila Dua Pasang, Golput Tinggi

Anugra: Bila Dua Pasang, Golput Tinggi

886
BAGIKAN :

Saya berani taruhan bila pasangan hanya dua calon maka Golput akan tinggi yakni sekitar 40-50 persen.


KORANKITE.COM, PANGKALPINANG —
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memang masih terbilang lama yakni pada tanggal 2 Febuari 2017. Namun berbagai warning terhadap tingkat kepercayaan publik terhadap para petahana dan para kandidat lain masih menimbulkan ketidakpercayaan mendalam, yang mana nanti akan berdampak pada peran serta masyarakat dalam menunaikan haknya untuk memilih, terlebih bila nantinya hanya dihadapkan pada dua pasang calon.

Terkait hal tersebut Peneliti Lintas Studi Demokrasi Lokal (Lidal), Anugra Bangsawan, mengemukakan bila pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur hanya ada dua pasang maka persentasi Golongan Putih (Golput) akan tinggi. Hal itu menurut analisanya dalam melihat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para petahana yang dirasakan sebagian masyarakat belum bekerja maksimal.

“Saya berani taruhan bila pasangan hanya dua calon maka Golput akan tinggi yakni sekitar 40-50 persen,” ungkap Anugra ketika ditemui di tempat makan di belakang kantor Gubernur Babel, Selasa (19/04/2016).

Walaupun demikian hal tersebut bisa berubah disaat muncul wajah-wajah baru yang memang memiliki visi misi serta track record yang baik.

“Realitas Golput menjadi suatu hal lumrah, kalau di kita (Indonesia-red) memilih itu hak, kalau di negara-negara maju seperti salah satunya Autralia memilih itu kewajiban, karena kalau tidak, mereka kan mendapatkan hukuman,” tukasnya.

Baca Juga:  Mensos: SISKADASATU Formula Efektif untuk Verivali Data Kemiskinan

Lanjutnya, pola fikir masyarakat terhadap Pilkada lebih kearah keuntungan sesaat, hal itu dikarenakan banyak akumulatif kinerja kepala daerah dinilai masih kurang ditambah lagi parameter pencapaian Visi Misinya jauh dari harapan.

“Masyarakat menilai dalam hal ini eksekutif tidak maksimal, sehingga pilkada tidak dianggap penting, sebab akan sama-sama saja siapapun yang memimpin, padahal dihari pemilihan diliburkan,” katanya.

Tidak hanya itu faktor lainnya yakni kesiapan penyelenggara pemilu khususnya menyangkut anggaran, sehingga tidak melakukan sosialisasi ke masyarakat, “Ketidak profesionalan penyelenggara juga menjadi persoalan dalam hal pengurangan golput,” tukas Anugra.

Perwakilan Masyarakat yang sedang berada ditempat wawancara, Kurniawan yang akrab disapa Wawan mengatakan bahwa dirinya lebih baik melakukan aktifitasnya sehari-hari daripada harus ikut merayakan pesta demokrasi.

“Lebih baik saya bekerja, daripada ikut nyoblos, semua pemimpinnya hanya ngomong saja, kegiatan yang menyentuh kepada masyarakat tidak ada, jadi untuk apa kami memilih,” tukasnya.

“Terlebih lagi jikalau nanti pemimpinnya hanya itu-itu saja, yang mana sudah terlihat disaat kepemimpinannya, yang tidak memberikan kemajuan bagi provinsi ini,” tutup Wawan. (PRJ)

KOMENTAR