Gas Elpiji Ilegal Sudah Sangat Meresahkan

Gas Elpiji Ilegal Sudah Sangat Meresahkan

395
BAGIKAN :

Kami akan intensifkan untuk mengawasi masalah ini, elpiji ke distributor dan pangkalan gas. Ini sangat merugikan kita semua, harus segera ditindak

//Pemerintah Akan Lakukan Pengawasan Rutin

Korankite.com, Pangkalpinang – Pengoplosan gas elpiji ilegal masih marak dilakukan perusahaan, distributor maupun pangkalan gas yang ada di wilayah Babel. Pengoplosan tersebut dilakukan dari gas elpiji 3 kg ke tabung yang 12 kg.

“Pengoplosan tabung gas ini masih banyak terjadi disini, mengenai jumlah pasti belum diketahui,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Babel Yuliswan diruang kerjanya, Jumat (11/11/2016),

Ia mengatakan pengawasan terhadap para distributor dan pangkalan ini akan dilakukan dengan rutin. Hal tersebut sudah sangat meresahkan masyarakat umum. Permainan yang dilakukan sangat terstruktur dengan rapi.

“Kami akan intensifkan untuk mengawasi masalah ini, elpiji ke distributor dan pangkalan gas. Ini sangat merugikan kita semua, harus segera ditindak,” tandasnya.

Yuliswan menghimbau kepada masyarakat apabila ada hal-hal yang mencurigakan yang dilakukan distributor atau pangkalan gas, segera laporkan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Babel dan Kepolisian.

Baca Juga:  Maret, Paket Proyek PU Kota Siap

” Kalau ditemukan indikasi pengoplosan, segera berikan laporan kepada kami. Kami akan menindak tegas bersama aparat kepolisian mengenai kegiatan itu,” tegasnya.

Distributor dan pangkalan gas yang resmi dari Pertamina menjual gas elpiji sudah ada hitungan mengenai keuntungannya. Misalkan, tabung gas 3 kg harga sebesar Rp 20.000/tabung dioplos ke 12 Kg butuh 4 tabung yakni sebesar Rp 80.000 modalnya, terus dijual dengan harga Rp 160.000 /tabung 12 kg. Jadi, untungnya hampir 100 persen.

“Praktik ini sangat merugikan masyarakat dan sudah meresahkan,” tuturnya.

Menurut Yuliswan, pelaku dalam praktik pengoplosan elpiji telah melanggar peraturan perundang-undangan yang ada dan mengenai ancaman hukuman pidananya sangat berat.

“Atas perbuatannya, para pelaku bisa dijerat denganĀ  pidana yakni tentang UU No. 22 Tahun 2011 tentang minyak gas dan bumi, UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen,” terangnya. (Man)

KOMENTAR