GEMPA: Sambut Baik Rencana Walikota Buat 10.000 Biopori

GEMPA: Sambut Baik Rencana Walikota Buat 10.000 Biopori

720
BAGIKAN :
Ketua Umum LSM Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (GEMPA), Aditia Pratama, ST.

KORANKITE. COM, PANGKALPINANG — Ketua LSM Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempa) Indonesia, Aditia Pratama, ST mengapresiasi rencana Walikota Pangkalpinang, M. Irwansyah untuk membuat 10.000 Biopori. Pasalnya dengan adanya Biopori Banjir di Pangkalpinang bisa di minimalisasi dengan cepat.
“Biopori merupakan teknologi sederhana tepat guna multi fungsi. Bisa untuk resapan air, bisa untuk mengurangi genangan air, bisa untuk wadah pengomposan, dan tentunya menyuburkan tanah. Selain itu juga teknologi ini sangat aplikatif karena mudah dan murah lebih sederhana daripada sumur resapan, juga sangat dianjurkan terutama di kawasan padat pemukima,” kata Adit ketika dikonfirmasi, kamis, (25/02/2016)
Dalam membuat Biopori Adit menjelaskan untuk mengetahui banyaknya lubang yang diperlukan, misalnya dalam areal 100 meter persegi yang berada di daerah curah hujan 50 milimeter (curah hujan sedang) membutuhkan sekitar 20 lubang biopori. Hitungan itu mempertimbangkan kemampuan tanah dalam meresap air.
“Biopori lebih sederhana dibanding sumur resapan. Sumur resapan menggunakan batu, pasir, dan ijuk yang ditutupi tanah lalu dilapisi semen, teknik sumur resapan justru tidak efektif. Sebab, makhluk hidup di dalam tanah akan kekurangan oksigen,” ungkap adit
Selain itu menurut mantan Ketua ISBA Bandung tersebut pembuatan lubang resapan biopori tergolong mudah dan dapat diaplikasikan dari skala rumah tangga hingga skala yang lebih luas. Pada berbagai macam permukaan tanah pun bisa dibuat lubang resapan biopori, mulai dari permukaan tanah hingga permukaan beton atau lapisan adukan semen. Peralatan yang dibutuhkanpun relatif sederhana dengan teknologi yang sederhana pula. Selain itu, membuat lubang resapan biopori juga tidak membutuhkan waktu lama dan biaya besar.
“Lubang biopori merupakan teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk mengurangi genangan air dan sampah organik. Khususnya di kawasan pemukiman, antara lain untuk mengurangi tingkat genangan air di pekarangan. Dan jika dibuat secara massal pada taman lingkungan, maka lubang ini juga dapat mengurangi genangan air di kawasan perumahan. Beberapa taman di kawasan Jakarta juga sudah dibuatkan lubang biopori,” pungkas lulusan Teknik Lingkungan tersebut. (PRJ)

KOMENTAR
Baca Juga:  PPM Harus Jaga Marwah Perjuangan dan Silaturrahmi