Ketua FMPBB Mendatangi Kantor Kesbangpol Bangka Barat

Ketua FMPBB Mendatangi Kantor Kesbangpol Bangka Barat

27
BAGIKAN :

Korankite.com, Bangka Barat – Ketua Ormas FMPBB Bruri Rusyadi dan pengurus mendatangi Kantor Kesbangpol Bangka Barat untuk menindaklanjuti laporan yang mereka terima dari beberapa daerah di Bangka Barat praktik politik berbau SARA memasuki kampanye Pilkada Serentak 2020. Kamis (1/10/2020)

Forum Masyarakat Peduli Bangka Barat ( FMPBB ) mencium aroma politik berbau Suku, Agama, Ras, Antar golongan ( SARA ) yang dilakukan sejumlah oknum tertentu.

Menurut Ketua FMPBB, Bruri Rusyadi mengatakan pihaknya telah mendapat informasi terkait hal tersebut membuat dia merasa prihatin dan meminta pihak terkait agar menindaklanjuti laporan yang mereka terima dari beberapa daerah di Bangka Barat. Dia khawatir praktik politik berbau SARA dapat memicu perpecahan.

” Belakangan ini kami menerima laporan dari masyarakat kalau ada gerakan bernuansa SARA. Jangan sampai isu berkembang kami minta pihak – pihak terkait, baik pihak kepolisian, Bawaslu untuk mengawasi informasi yang kami terima ini. Karena kalau dibiarkan kami khawatir bisa menimbulkan perpecahan,” tukas Bruri

Bruri dengan tegas mengecam praktik politik bernuansa SARA tersebut. Apalagi sejak dahulu masyarakat Bangka Barat dikenal hidup rukun dan damai saling berdampingan.

Baca Juga:  PPM Harus Jaga Marwah Perjuangan dan Silaturrahmi

Masjid Jamik dan Klenteng Kong Fuk Miao di Kelurahan Tanjung yang letaknya bersebelahan kata Bruri menjadi simbol toleransi umat beragama di Bangka Barat, khususnya kota Muntok.

Mantan Anggota DPRD Provinsi Babel ini melanjutkan, kerukunan dan toleransi umar beragama tidak hanya tercipta di Kecamatan Muntok saja, tapi juga menjadi nafas kehidupan masyarakat di sejumlah kecamatan lain, seperti Paritiga, Jebus dan Simpang Teritip.

Berdasarkan fakta – fakta tersebut, Bruri berharap kepentingan politik di masa Pilkada ini jangan sampai menodai kerukunan yang telah terjalin cukup lama.

Disamping itu, Bruri minta agar kegiatan ceramah keagamaan di tempat – tempat ibadah steril dari isu – isu berbau politik dan SARA.

” Kami juga berharap, kegiatan ceramah di tempat ibadah harus steril jangan ada yang berbau politik apalagi SARA,” tutup. ( Asw)

KOMENTAR