Pemerintah Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ribu Benih Lobster

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ribu Benih Lobster

358
BAGIKAN :
Konferensi pers pengungkapan kasus penyelundupan Lobster dalam ko[er di Jakarta, Senin (27/2/2017). (ft:l6)

Pelaku membeli benih lobster dari nelayan kemudian ditampung oleh pengepul. Selanjutnya barang dibawa melalui kurir dengan bagasi berupa kopor yang berisi BL dalam kemasan plastik.


KORANKITE.COM, JAKARTA
— Pemerintah melalui Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia berhasil menggagalkan penyelundupan sebanyak 65.749 ekor benih lobster yang diperkirakan berpotensi merugikan negara sebesar Rp7.066.960.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina mengungkapkan, penindakan terhadap jaringan sindikat penyelundupan Benih Lobster (BL) dilakukan di lima Tempat Kejadian Perkara (TKP) yaitu di Kota Denpasar, Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar, Bandara Internasional Lombok, Kota Mataram, dan Surabaya selama periode 3 Februari s/d 22 Februari 2017.

Penggagalan penyelundupan BL tersebut merupakan hasil kerjasama operasi antara Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri, Imigrasi Bandara Ngurah Rai Denpasar, Balai KIPM Kelas I Denpasar, dan Balai KIPM Kelas II Mataram.

Petugas berhasil mengamankan 9 orang tersangka/pelaku dalam operasi tersebut. Mereka adalah yang terlibat dalam proses pengiriman, pengangkutan, perdagangan, dan usaha penyelundupan BL tersebut. Saat ini, para pelaku sedang menjalani proses penyidikan oleh Direktorat Tipidter Bareskrim Polri dan PPNS BKIPM. Rina menjelaskan, para pelaku menggunakan modus operandi pengiriman BL selundupan ke luar negeri yang berbeda di setiap tempatnya.

“Untuk kasus di Denpasar dan Mataram, pelaku membeli benih lobster dari nelayan kemudian ditampung oleh pengepul. Selanjutnya barang dibawa melalui kurir dengan bagasi berupa kopor yang berisi BL dalam kemasan plastik. Plastik ini sengaja diisi dengan media spon basah beroksigen supaya benih lobsternya tetap bertahan hidup sampai tempat tujuan, yaitu Singapura atau Vietnam,” papar Rina di Jakarta, Senin (27/2) dalam rilis yang diterima korankite.com.

Adapun pada kasus penyelundupan di Surabaya, Rina menjelaskan jika BL dikirim melalui cargo udara dengan diantar oleh pengirim via taksi online. BL ditaruh dalam plastik yang diisi dengan media spon basah beroksigen dengan sedikit air dan dipacking dalam styrofoam.

Operasi gabungan di Bandara Gusti Ngurah Rai Denpasar dilakukan tiga kali. Pada operasi pertama, Jumat (3/2) pukul 19.00 WITA, petugas berhasil mengamankan tersangka Indriyatri yang kedapatan membawa 16.830 ekor BL milik tersangka Dasini dalam satu koper. Modusnya, BL dikirim dari Yeyen di Lombok melalui jalan darat dan diterima oleh tersangka Dasini di rumahnya Jl. Pulau Adi V No. 18 Denpasar.

Kemudian Dasini menyewa kurir yaitu Indriyatri untuk menyelundupkan BL ke Singapura melalui Bandara Gusti Ngurah Rai Denpasar, untuk dikirim kepada An. Mr Lie di Singapura. Sebanyak 16.630 ekor BL sudah dilepasliarankan di pantai Ketewel Denpasar, sedangkan 200 ekor lainnya dijadikan barang bukti.

Operasi kedua, Minggu (5/2) pukul 13.00 WITA, petugas menangkap tersangka Siti Khotijah yang kedapatan membawa 8.245 ekor BL dalam kondisi mati. BL tersebut disimpan dalam 1 (satu) koper. Sehari sebelumnya, Sabtu (4/2), Siti Khotijah sebenarnya sudah lolos sampai di Singapura. Namun, esok harinya ia dipulangkan oleh pihak Imigrasi Singapura. Pemilik dan penerima masih Dasini dan An. Mr Lie. Sebanyak 8.045 bangkai BL tersebut dimusnahkan dan 200 ekor lainnya dijadikan barang bukti.

Baca Juga:  18 Negara Ikut Sungailiat Triathlon

Pada operasi ketiga, Kamis (9/2) dilakukan pada hari Kamis, pukul 07.30 WITA, berhasil ditangkap tersangka Jek Sen yang membawa 9.480 ekor BL. Sebanyak 9.280 ekor BL sudah dilepasliaran di pantai Ketewel Denpasar dan 200 ekor lainnya dijadikan barang bukti.

Adapun untuk wilayah Denpasar, operasi dilakukan pada Sabtu (4/2), pukul 11.00 WITA di rumah tersangka Dasini. Petugas menemukan 5.100 ekor BL yang siap diselundupkan ke Singapura untuk An. Mr. Lie. Sebanyak 4.900 ekor sudah dilepasliaran di pantai Ketewel Denpasar dan disisihkan sebanyak 200 ekor untuk barang bukti. Pada operasi di wilayah Bandara Internasional Lombok pada Senin (6/2), pukul 19.00 WITA, petugas berhasil menangkap 3 (tiga) tersangka yaitu Hendra, Rudiyanto alias Asiong, dan Joni Kristiadi.

Mereka menggunakan modus yang sama, membawa BL di dalam koper. Petugas menyita 7.428 ekor BL dari tangan Hendra, 6.116 ekor dari Rudiyanto, dan 6.050 ekor dari tangan Joni. BL sitaan tersebut dilepasliarkan di perairan Teluk Nare, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, pada Selasa (7/2) setelah disisihkan beberapa sebagai barang bukti.

Di Lombok, operasi dilakukan Rabu (22/2) pukul 16.00 WITA dengan TKP mall Emporium Kota Lombok. Petugas mengamankan Bahraen Hartoni alias Yenyen alias Aeng. Adapun di Surabaya, operasi dilakukan Senin (19/2) pukul 16.00 WIB di TKP Kargo MSA Bandara Juanda Surabaya. Tersangka Ida Ester diamankan bersama 6.500 ekor BL barang bukti. Modusnya sedikit berbeda, BL dikirim melalui cargo udara dengan diantar oleh pengirim via taksi online. Sebanyak 6.350 BL dilepasliarkan, dan sisanya dijadikan barang bukti.

Atas perbuatannya, para tersangka dapat dikenakan pasal berlapis, yaitu Pasal 16 ayat (1) Jo Pasal 88 UU Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan Jo UU Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan Jo Pasal 55 KUHP.

“Setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, megeluarkan, mengadakan, mengedarkan, dan atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidayaan ikan, sumber daya ikan, dan atau lingkungan sumber daya ikan ke dalam dan atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) (UU Nomor 31 tahun 2004) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah),” ungkap Rina.

Selain itu, para tersangka juga terancam tindak pidana Pasal 31 ayat (1) UU Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, yang berbunyi, “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 9, Pasal 21, dan Pasal 25, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp150 juta,” tutupnya. (rl/mg86)

KOMENTAR