Rakerwil NU Babel, Pertegas Tugas Ulama

Rakerwil NU Babel, Pertegas Tugas Ulama

481
BAGIKAN :
Ketua PWNU Babel, HR Agus Erwin Memberikan Sambutan Dalam Rakerwil I NU yang Ditutup Minggu, 17 April 2016. (foto:farizandy harris/kite)

Ulama itu mendatangi bukan didatangi, orang Islam itu harus berkualitas, kualitasnya itu dengan keilmuan.


KORANKITE.COM, PANGKALPINANG —
Nadlatul Ulama (NU) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), telah menutup rapat kerja wilayah (Rakerwil) di Gedung Serba Guna (GSG) Pengurus Wilayah (PW) NU. Dalam Rakerwil PWNU telah dibahas berbagai program kerja secara ilmiah, melalui kegiatan seminar dan pembahasan secara musyawarah. Makanya Rakerwil NU Babel kali ini, hanya ingin mempertegas tugas – tugas ulama dalam mencerdaskan masyarakat.

Ketua PWNU Babel, HR Agus Erwin kepada wartawan menegaskan, NU dengan infrastruktur kepengurusan harus mampu memberi pemahaman agama yang berwawasan ilmu pengetahuan. Karena islam sebagai agama tidak hanya, memiliki kewajiban beribadah kepada Allah melainkan punya tanggung jawab diaktivitas umat.

“Ulama itu mendatangi bukan didatangi, orang Islam itu harus berkualitas, kualitasnya itu dengan keilmuan. Makanya ibadah kepada Allah dan ibadah sosial harus dilakukan,” terangnya.

Sedang dalam sambutan, Ketua PWNU dua periode ini menginginkan generasi muda Islam agar memiliki keilmuan. Dimana dengan keilmuan tadi, mereka akan berkontribusi mengistiqomahkan umat Islam.

“Makanya Mukerwil ini adalah mengkongkritkan peran ulama dalam memberikan pemahaman islam dengan wawasan keilmuan agar bisa beribadah. Peran ulama, menyampaikan dan menjaga apa yang disampaikan Allah dan nabi, mewarisi apa yang diwajibkan agama untuk umat,” papar Agus.

Baca Juga:  Pangkat Para Wali Allah

Terkait tema, go to science stay in islam adalah upaya implementasi ayat 190 – 191 surah Ali Imran. “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

Karena menurut Agus, dalam sejarah Indonesia. Supremasi (kekuasaan tertinggi) yang dilalui sangat terlambat. Dimana era orde lama, bangsa Indonesia baru melakukan supremasi ideologi, kemudian supremasi militer di era orde baru dan saat ini di era reformasi baru pada supremasi politik.

“Bangsa lain sudah melakukan supremasi teknologi, sehingga dengan penguasaan teknologi menjadikan kita bangsa Indonesia pasar dan menjadi negara jajahan,” terangnya. (FRZ)

KOMENTAR