Terkait TI Apung Tanjung Bunga, Ferry: Rata Rata Masyarakat Hidup Dari Situ

Terkait TI Apung Tanjung Bunga, Ferry: Rata Rata Masyarakat Hidup Dari Situ

365
BAGIKAN :

Korankite.com, Pangkalpinang – Hebohnya pemberitaan tentang TI Apung Tanjung Bunga Sampur belakangan ini sudah sangat berlebihan, sampai-sampai jumlahnya disebut mencapai ribuan, padahal dari sisi lain kegiatan tersebut sebagai salah satu usaha dalam membangun tatanan perekonomian masyarakat yang mana membuat masyarakat pesisir menjadi sangat kreatif dalam memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat.

“Statemen walikota pangkalpinang untuk menutup kegiatan TI Apung, padahal itu hanya sebatas cross cek ke lapangan akibat pemberitaan yang sangat masif akhir akhir ini, Sebagai politisi hal ini mesti cepat direspon. Jangan terkesan hanya melihat dari satu sisi yang membuat berbagai unsur kepetentingan masyarakat pesisir menjadi dilema. Kita tidak menutup mata semua kawan kawan kita untuk menghidupi keluarga mereka bersumber dari kegiatan TI Apung tersebut,” ungkap Sekretaris Karang Taruna Kecamatan Bukit intan, Ferry Firdaus melalui pesan WA beberapa waktu lalu

“Masyarakat sangat kreatif melakukan berbagai cara untuk dapat merasakan hingar bingar TI Apung Tanjung Bunga Sampur boleh dikatakan sebagai komunitas lokal mulai dari pejaja makan minum, ojek perahu, reman (bahasa lokal meminta timah-red) dan bermacam-macam tergantung situasi serta kondisi, ada yang mengatasnamakan, reman doa, reman nyawa, reman persahabatan dan dapat saya katakan mereka kreatif dalam melihat peluang,” ungkapnya lagi

Lanjut Ferry semua dikarenakan kebutuhan perut dan juga tidak terlepas dari sosial budayanya. Keberadaan TI Apung Tanjung Bunga Sampur juga memberi manfaat kepada masyarakat yang tidak terlibat langsung seperti masjid,anak yatim piatu, dhuafa dan sebagian besar sumber penghasilan tambahan nelayan.

“Walau dalam konteks pencemaran lingkungan apalagi lingkungan tersebut adalah alam yang berarus saya menilai statemen ini sangat berlebihan. Dalam menentukan baku mutu lingkungan tidak ujuk ujuk membuat pernyataan bahwa lingkungan pantai ini tercemar, apa lagi ada kategory gawatnya atau parahnya. Semua ini dapat di tentukan dengan kajian-kajian yang mendalam oleh ahli yang membidangi lingkungan,” tukasnya

“Logika saya tentang sendimentasi di daerah pasir padi,Tanjung Bunga dan sekitarnya kalau memang terjadi sendimentasi tidak mungkin sepadan pantai terjadinya abrasi, karena yang di namakan sendimentasi proses transportasi material sisa proses penambangan dan menumpuk di pesisir, jadi kalau sendimentasi terjadi tidak perlu adanya proyek talud dan sebagainya itu sebatas cara orang awam berfikir seperti saya,” tukasnya lagi

Selain itu perihal penambangan yang di lakukan tidak kita pungkiri yang nama pertambangan tetap merusak apalagi tanpa adanya pengawasan dari stakeholder. Dalam hal ini harus saling membuka wawasan apa yang dinamakan TI Rajuk Apung. TI Rajuk termasuk kategory pertambangan ramah lingkungan, sama hal nya dengan teknologi yang di gunakan negara maju yang dipakai oleh brazil dan cina dalam penambangan tanah jarang.

Sistem di negara maju lebih di kenal dengan nama Bore Hole Mining dan sama persis dengan sistem rajuk yang digunakan masyarakat penambang timah aluvial. Sebatas saya tau sistem rajuk ini memakan kedalaman yang telah di tentukan lapisan kandungan timahnya, di proses dengan tekanan air sehingga di sedot keatas sudah menjadi pasir,lalu diproses pemisahan meterial dengan menggunakan Sakan.

Baca Juga:  Warga Kembali Keluhkan TI Apung di Pasir Padi dan Batu Belubang

“Jadi untuk mengatakan terjadinya sendimentasi di pesisir pantai akibat dari penambangan perlu kajian lagi. Setahu saya mulai dari kecil hingga sekarang, atau ada tidaknya penambangan terbuka oleh PT.Timah dengan kapal keruk dulunya karakter pesisir Tanjung Bunga Sampur hingga Batu Berlubang memang berlumpur. Sangat beda dengan pasir padi, air anyer, dan terus ke utara memang berpasir lembut,” sebutnya

Dalam perihal pariwisata dan pertambangan bisa dikatakan sangat bertolak belakang, tetapi yang mesti jadi pandangan adalah masyarakat masih bergantung pada pertambangan. Sumbangsih perdagangan timah kepada negara dan royalti kepada daerah cukup besar, serta permintaan timah dunia yang tidak cukup-cukupnya bersumber dari penambang.

“Apalagi dari sisi pelaku pertambangan itu sendiri akan mendongkrak perekonomian masyarakat, sebagai contoh pasar akan sepi apabila terjadinya operasi di tambang,pasar adalah mengenai kebutuhan perut dan disitulah kita melihat daya beli masyarakat. Apalagi kita membangun kepariwisataan yang sementara masyarakatnya belum siap,” jelas Ferry

Lanjut Feery, Pemerintah bisa menyiapkan fasilitas apapun untuk meningkatkan di bidang pariwisata, tetapi siapa yang akan mengunjungi apabila dapur gak ngebul (tidak ada yg dimasak-red), karena sumber penghasilan kawan-kawan dari tambang. Alangkah eloknya pariwisata berjalan pertambangan berdampingan selagi tidak menyentuh aset pemerintah yang dilindungi.

“Pada sisi tapal batas harus kita lihat pada dua unsur pertama Tanjung Bunga pada batas Pangkalpinang dengan Bangka Tengah. Yang kedua tanjung bunga terdapat beberapa IUP, di depan pasir padi terdapat IUP swasta yang dimiliki Pemda, dan kearah kanan pasir padi itu masuk dalam IUP nya PT.Timah sebatas dalam bayangan,untuk lebih detilnya dudukan peta wilayah beserta kordinatnya baru kita bisa menetukan,” paparnya

Sebatas sepengetahuan saya lagi tanjung bunga masuk dalam IUP PT.Timah terlepas mineral hasil tambang menjadi hak pemegang IUP atau tidak tergantung pengawasan dari pemegang IUP, dan didalam kerumunan TI Apung Tanjung Bunga terdapat juga beberapa mitra dari PT. Timah yang mengantongi Surat Perintah Kerja. Agar semuanya dapat berjalan lancar BUMN tidak usah malu-malu mengatakan itu wilayahnya PT.Timah, masyarakat penambang sangat ingin kalau mereka di jadikan anak angkat oleh BUMN selagi tidak ada yang dirugikan. Instrumen hukumnya jelas tergantung bagaimana BUMN merangkul penambang yang selama ini selalu dikatakan ilegal,” paparnya lagi

Untuk itu kami berharap pemerintah kota mesti bijak dalam hal pertambangan. Jangan sampai kalau memang penertiban yang dilakukan akan mejadi masalah baru yang berdampak pada perekonomian masyarakat.

“Yang dulunya mampu berdiri sendiri setelah penertiban bakal jadi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Saya selaku pengurus karang taruna bangga melihat pemuda kita begitu kreatif, kesibukan mereka hanya terfokus pada nambang timah. Tidak menutup kemungkinan mereka juga kalau sudah jadi pengangguran akan mengarah pada hal hal yang berbau negatif, karena desakan ekonomi,” tutup Ferry. (ril)

KOMENTAR