Tradisi Membuat Dodol Desa Mancung Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW

Tradisi Membuat Dodol Desa Mancung Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW

481
BAGIKAN :

Korankite.com,Pangkalpinang- Bangka Belitung memang dikenal dengan adat istiadat dan budaya yang menarik. Salah satunya adalah tradisi Nganggung yang digelar pada perayaan hari-hari besar Islam, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari, Jumat (1/12).

MAULID Nabi Muhammad SAW penting diperingati dan dimaknai dalam konteks penumbuhan sikap cinta Nabi SAW dan pengembangan spirit Islam autentik yang pernah didakwahkan oleh Nabi SAW dengan cinta dan damai. Melalui Maulid Nabi SAW, beberapa daerah pedesaan yang ada di Bangka Belitung biasanya mengelar acara ini di dirumah rumah .Kegiatan ini merupakan tradisi keagamaan yang masih sangat kental, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan saling membantu antar warga dalam suatu desa.

Beberapa daerah pedesaan seperti daerah Kemuja, Baluninuk, Kace, Mancung tiap tahunnya selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah yang ada di Bangka Belitung. Salah satunya di daerah desa Mancung kabupaten Bangka Barat. Menurut warga setempat setiap tahun sekali menyambut peringatan hari lahir Nabi Muhammad saw yang jatuh pada 12 Rabiul Awal (kalender Islam). Ini sudah jadi tradisi warga di sini setiap Maulid Nabi tiba. Secara serentak mengolah atau membuat (dodol) khas Bangka,.

Baca Juga:  Sopir Bus Antar Jemput Anak Perkosa Pelajar

Bahan dodol tersebut terbuat dari gula jawa, saripati kepala dan tepung beras ketan. “Bahan itu dicampur, lalu diolah di dalam wajan besar . Lalu diolah secara serentak oleh para pemuda,” jelas salah satu warga.

Dalam mengolah dodol tersebut, harus pakai tungku memakai kayu bakar. Dengan memakan waktu pematangan kurang lebih 12 jam. Saat mengolah dodol para pemudanya harus membaca shalawat, hingga masak. Tujuan membaca shalawat itu sebagai hadiah menyambut kelahiran Rasulullah.

Lebih lanjut dikatakan tradisi mengolah dodol oleh pemuda secara serentak tersebut sudah menjadi tradisi. “Harus pemuda, karena sebagai generasi penerus dan rasa kecintaannya kepada Rasulullah semakin tertanam”. Tutup warga. (Sdy)

KOMENTAR